Siapa Pemilik PT Indo Asiana Lestari? Perusahaan Sawit di Balik Gerakan All Eyes on Papua
--
ROOT PARAPLOU - Profil kepemilikan PT Indo Asiana Lestari, perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, terus menarik perhatian publik. Perusahaan yang menguasai puluhan ribu hektare lahan konsesi ini menjadi sorotan seiring dengan dinamika investasi sektor perkebunan dan hubungannya dengan struktur bisnis multinasional.
Aktivitas investasi PT IAL merupakan bagian dari pengembangan industri hilir kelapa sawit domestik yang diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi regional di wilayah timur Indonesia.
Dalam rencana pengembangannya, kehadiran perkebunan kelapa sawit ini diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja lokal, membangun infrastruktur jalan, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Boven Digoel melalui sektor pajak dan retribusi industri.
Baca juga: Rumah Prof dr Sardjito di Jogja yang Resmi Dijual Keluarga! Pemkot Jogja Lirik Danais
Di balik skala operasinya yang masif, profil kepemilikan PT IAL kerap memicu analisis mendalam dari berbagai lembaga transparansi bisnis. Berdasarkan data keterbukaan informasi, mayoritas saham korporasi ini dikendalikan oleh Mandala Resources, sebuah entitas bisnis yang terdaftar di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Meskipun menjanjikan kontribusi ekonomi bagi daerah, langkah ekspansi lahan oleh PT IAL menghadapi tantangan sosial yang signifikan dari masyarakat hukum adat setempat. Kawasan hutan yang masuk dalam peta konsesi perusahaan merupakan ruang hidup ulayat milik Suku Awyu, khususnya Marga Woro. Bagi komunitas lokal, hutan alam tersebut adalah sumber pangan mandiri, tempat berburu, obat-obatan, sekaligus wilayah sakral yang menjaga identitas budaya mereka secara turun-temurun.
Operasional PT IAL memicu gelombang penolakan masif dari masyarakat hukum adat Suku Awyu (terutama marga Woro). Hutan alam yang masuk dalam peta konsesi perusahaan merupakan ruang hidup adat ulayat tempat warga mencari makan dan menjaga ritual budaya secara turun-temurun. Kasus hukum penolakan izin lingkungan oleh Suku Awyu sempat memicu gerakan viral di media sosial global dengan slogan kampanye "All Eyes on Papua".